Rabu, 27 November 2013

Bencana dan Kota

Assalamu Alaikum wr. wbr

hey guys setelah membahas tentang definisi bencana ,siklus managemen bencana kali kita akan membahas mengenai keterkaitan antara Bencana dan kota secara lebih menyeluruh.

adapun  kali ini saya hanya akan menanggapi mata kuliah saya minggu lalu dalam Rancang Kota dengan Judul materi kuliah yaiktu Aspek" bencana dalam Kota. Ilmu yang saya dapat dari mata kuliah kemarin sedikit saya sharing yah guys. dalam mata kuliah kemarin dosen kami menayangkan sebuah video menyangkut bencana alam yang terjadi pada tahun 2004 silam, bencana tsunami yang merenggut nyawa ratusan ribu penduduk indonesia. dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan siapapun , semua orang pasti merasa sedih dan prihatin akan kejadian tersebut. namun apadaya kita sebagai manusia, Jika Allah SWT berkehendak yang terjadi tidak dapat lagi disesalkan atau dipersalahkan karena kita sebagai hambanya tentu hanya bisa sabar dan bertawakkal,tentu pula disertai dengan usaha. Ya salah satunya dengan berusaha bangkit kembali setelah bencana tersebut, mengambil pelajaran dari kejadian tersebut agar jika kejadian tersebut terulang kembali setidaknya kita dapat meminimalisir dampak atau efeknya dalam kehidupan kita. karena Kejadian bencana seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk melakukan penataan kembali sebuah lingkungan perkotaan yang terkena bencana. Permukiman merupakan salah satu fungsi di dalam perkotaan pasca bencana yang mendapatkan perhatian utama dalam masa rekonstruksi dan rehabilitasi, agar kehidupan masyarakat dapat kembali membangun sisi sosial, budaya dan ekonomi mereka. Banyak konsep perencanaan kawasan perkotaan yang dapat diterapkan dalam penataan kembali sebuah lingkungan perumahan pasca bencana.

Sebenarnya suatu upaya penataan kembali perlu untuk dilihat bukan hanya sebagai bagian untuk meminimalkan tetapi upaya untuk mencegah atau menghindari penyebab terjadinya kerusakan akibat bencana. Penataan kembali permukiman pasca bencana dalam kerangka menuju kota tanggap bencana dapat menjadi salah satunya. Hal ini mengingat adanya keterkaitan yang erat antara pembangunan lingkungan yang tanggap terhadap potensi lingkungan sekitarnya dengan upaya untuk mencegah atau meminimalkan terjadinya dampak bencana. 

maka dar itu seorang Arsitek Rancang Kota mempunyai tanggung jawab besar dalamMerancang kota yang responsif dan antisipatif . Pada kejadian bencana dapat belajar dari rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana di kota atau kawasan lain. Arsitek dituntut seyogyanya mampu mengungkapkan isu-isu penataan lingkungan permukiman untuk mewujudkan sebuah kota yang lebih antisipatif dan tanggap terhadap bencana. Argumennya, kemampuan mengelola kemungkinan bencana dari masyarakat kota bisa ditingkatkan dengan bantuan perencanaan dan perancangan kota. Oleh karenanya peran perencanaan permukiman kota pasca bencana menjadi sangat penting dalam menciptakan kota yang tanggap terhadap bencana.  

Semoga kita sebagai Arsitek" masa depan kelak telah mampu memenuhi kriteria merancang Kota yang tanggap bencana. Amiiiin ^_^

Sekian dan Terimakasih.
Walaikum salam wr. wbr.

Siklus Managemen Bencana

Assalamualaikum wr. wbr.



Nah guys pada kesempatan kali ini saya akan melanjutkan kelanjutan dari materi sebelumnya setelah membahas mengenai pola kota , kali ini saya akan membahas mengenai definisi dari tiap tiap bagian siklus managemen bencana.


Sebelum membahas bagian-bagian daripada siklus managemen bencana kita perlu tahu terlebih dahulu, apa sih bencana itu.


Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan definisi bencana sebagai berikut:
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh Faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. menurut ahli , Warfiekd tujuan dari Siklus managemen bencana ialah agar dapat mengurangi atau mencegah kerugian karena bencana tersebut, dan dapat mejamin terlaksananya bantuan yang segera dapat memadai kebutuhan korban bencana. dan mencapai pemulihan yang cepat dan efektif. 

Siklus manajemen bencana yang terdiri komponen  mitigation, preparedness, respon , recovery yang perlu dilakukan secara utuh dan menyeluruh. Untuk lebih jelas akan dibahas keempat fase siklus manajemen bencana tersebut sebagai berikut:



Fase pertama, Mitigation (mitigasi) : upaya untuk memperkecil dampak dari bencana, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Ada 2 bentuk mitigasi yang lazim dilakukan yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. (1) Mitigasi struktural merupakan upaya PRB dengan cara membangun lingkungan fisik dengan menggunakan rekayasa struktur, seperti pembangunan bangunan tahan gempa, pengendalian lingkungan dengan pembuatan kanal banjir, drainase, dan terasering. (2) Mitigasi non-struktural adalah upaya PRB dengan cara merubah prilaku manusia atau proses alamiah, seperti penyusunan kebijakan, peraturan perundang-undangan, PRB, pendidikan, dan penyadaran masyarakat, modifikasi non-struktural, perubahan perilaku masyarakat.



Fase kedua,Preparedness  (kesiapsiagaan) : Merencanakan bagaimana menanggapi bencana dilakukan dalam fase ini. Hal tersebut meliputi: Merencanakan kesiapsiagaan, penilaian kerentanan, kelembagaan, Sistem informasi, basis sumberdaya, membangun sekolah siaga bencana, memasukkkan unsur PRB dalam kurikulum sekolah, Sistem peringatan dini, mekanisme tanggap, pendidikan public dan pelatihan, kesiapan logistic, membuat rencana kontijensi, kemudian diuji coba kesiapsiagaan terhadap bencana.



Fase ketiga, Respon (tanggapan): Upaya memperkecil kerusakan yang disebabkan oleh bencana, Pencarian dan penyelamatan korban diantaranya: Triage korban bencana dan pemilahan korban, pemeriksaan kesehatan, dan mempersiapkan korban untuk tindakan rujukan. Selain itu juga memfungsikan pos kesehatan lapangan (rumah sakit lapangan), mendistribusikan logistik (obat-obatan, gizi, air bersih, sembako), menyediakan tempat tinggal sementara dan penanganan pos traumatic stress.

Fase keempat, Recovery (pemulihan ) : tindakan mengembalikan masyarakat ke kondisi normal. Peristiwa ini menfokuskan pada perbaikan sarana dan prasarana, yaitu: rehabilitasi dan rekonstruksi. Adapun rehabilitasi merupakan upaya untuk membantu komunitas memperbaiki rumahnya, mengembalikan fungsi pelayanan umum, perbaikan sarana transportasi, komunikasi, listrik, air bersih dan sanitasi, dan pelayanan pemulihan kesehatan. Selanjutnya rekonstruksi merupakan upaya jangka menengah dan jangka panjang seperti pembangunan kembali sarana dan prasarana, serta pemantapan kemampuan institusi pemerintah, sehingga terjadinya perbaikan fisik, social dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan komunitas pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.
Adapun Tahapan keempat siklus managemen bencana diatas adalah sebagai berikut:



(Diagram ini merupakan modifikasi  dari diagram‘Posisi Early Warning System dalam Siklus Pengelolaan Bencana‘ yang terdapat dalam Robert Kodoatie Ph. D., dan Roestam Syarief Ph. D.,Pengelolaan Bencana Terpadu, 2005)
Demikian yang dapat saya tuliskan , demi memenuhi tugas refresh minggu ke enam dalam mata kuliah Rancang Kota denga Judul materi Perkuliahan Aspek Bencana Dalam Kota, semoga dapat bermanfaat bagipembaca lainnya. Sekian dan Terima kasih.
Sumber:
Thanks To www.bnpb.go.id
Thanks to Wikipedia.co.id
Thanks To My lecturer Mr. Fahmyddin S.T.M.arch.


Urban Form

Assalamu alaikum wr.wbr

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai lanjutan pada materi2 sebelumnya yaitu urban form atau Bentu Kota .Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan kota adalah bentuk dan pola kota. Pola suatu kota tersebut dapat menggambarkan arah perkembangan dan bentuk fisik kota. Ekspresi keruangan morfologi kota secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu bentuk kompak dan bentuk tidak kompak (Yunus, 2000: 14).
  1. Bentuk kompak mempunyai 7 macam bentuk, yaitu:
  • Bujur sangkar ( The square cities) Bujur sangkar menunjukkan sesuatu yang murni dan rasionil, merupakan bentuk yang statis, netral dan tidak mempunyai arah tertentu. Bentuk bujur sangkar merupakan bentuk kota yang bercirikan dengan pertumbuhan di sisi-sisi jalur transportasi dan mempunyai kesempatan perluasan ke segala arah yang relatif seimbang dan kendala fisikal relatif yang tidak begitu berarti. Hanya saja adanya jalur transportasi pada sisi-sisi memungkinkan terjadinya percepatan pertumbuhan area kota pada arah jalur yang bersangkutan.Kota berbentuk bujur sangkar menunjukkan pula adanya kesempatan perluassan kota ke segala arah yang relatif tidak begitu berarti

  • Empat persegi panjang (the rectangular cities)
    Merupakan bentuk kota yang pertumbuhannya memanjang sedikit lebih besar daripada melebar, hal ini dimungkinkan karena adanya hambatan-hambatan fisikal terhadap perkembangan area kota pada salah satu sisinya.
  • Pita (ribbon shaped cities)
    Merupakan bentuk kota dengan peran jalur transportasi yang dominan, terbentuk pola kota yang memanjang.seebenarna bentuk ini agak mirip rectangular city namun, karena dimensi memnjangnya lebih besar daripada melebar maka bentuk ini menempati klasifikasi tersendiri.
  • Kipas (fan shaped cities)
    Bentuknya sebagian lingkaran, arah ke luar kota mempunyai perkembangan yang relatif seimbang.
  • Bulat (rounded cities)
    Merupakan bentuk kota yang paling ideal, karena jarak dari pusat kota keluar kota hampir sama. Selain itu perkembangan pembangunan keluar kota terjadi secara cepat.
  • Gurita /bintang (octopus/star shaped cities)
  • Contoh kota berbentuk seperti ini ialah washinghton D.C. peranan  jalur transportasi pada bentuk ini juga dominan sebagaimana dalam 'ribbon-shapped city". Hanya saja, pada bentuk gurita jalur transportasi tidak hanya satu arah saja, tetapi beberapa arah ke luar kota. Hal ini hanya dimungkinkan apabila daerah “hinter land” dan pinggirannya tidak memberikan halangan-halangan fisik yang berarti terhadap perkembangan areal kekotaannya.  Merupakan bentuk kota yang jalur transportasinya mirip seperti ribbon shaped city, hanya saja pada bentuk gurita jalur transportasi tidak hanya satu arah saja, tetapi keberbagai arah keluar kota.

  • Tidak berpola (Unpattern cities)
    Kota dengan pola demikian merupakan kota yang terbentuk pada suatu daerah dengan kondisi geografis yang khusus, yaitu daerah dimana kota tersebut telah menciptakan latar belakang khusus dengan kendala-kendala pertumbuhan sendiri.
2.  Bentuk tidak kompak mempunyai empat macam bentuk, yaitu:
  • Berantai (chained cities). Merupakan bentuk kota terpecah tapi hanya terjadi di sepanjang rute tertentu. Kota ini seolah-olah merupakan mata rantai yang dihubungkan oleh rute transportasi, sehingga peran jalur transportasi sangat dominan.
  • Satelit (stellar cities). Merupakan bentuk kota yang didukung oleh majunya transportasi dan komunikasi yang akhirnya tercipta bentuk kota megapolitan. Biasa terdapat pada kota-kota besar yang dikelilingi oleh kota-kota satelit. Dalam hal ini terjadi gejala penggabungan antara kota besar utama dengan kota-kota satelit di sekitarnya, sehingga kenampakan morfologi kotanya mirip “telapak katak pohon
  • Terpecah (fragment cities). Merupakan bentuk kota dimana perluasan areal kota tidak langsung menyatu dengan induk, tetapi cenderung membentuk exclaves (umumnya berupa daerah permukiman yang berubah dari sifat perdesaan menjadi sifat perkotaan).
  • Terbelah (split cities). Merupakan bentuk kota kompak namun terbelah perairan yang lebar. Kota tersebut terdiri dari dua bagian yang terpisah yang dihubungkan oleh jembatan-jembatan.


  1. Pola suatu kota sangat berpengaruh dalam perkembangan fisik kota. Terdapat lima jenis pola kota antara lain:
  2. pola kota Radio Konsentris (ring Radial) bentuk kota ini memiliki pusat ditengah kota dengan tujuan agar dapat melayani daerah sekitarnya dari segala arah. Pola ini biasanya diterapkan pada kota- kta kerajaan.
  3. Pola kota linear . ciri-ciri dari pola ini antara lain pusat tidak jelas, tumbuh disekitar jaringan jalan yang ada di kota-kota pantai,
  4. Pola kota Grid (rectalinier) ciri-ciri dari pengunaan tanah efisien dan optimal, banyak jalan dan persimpangan 
  5. Pola satelit merupakan kota kota kecil yang massih tergantung pada induknya. fungsi kota ini sebagai kota tidur (dormitory city) , kota kampus dan kota hiburan (entertainy city)
  6.    Pola kota consclation kota ini merupakan kota kecil yang tidak memiliki kota induk.bentuknya ditentukanoleh struktur kota itu sendiri ditentukan pula oleh elemen elemen kota dan zoning.


Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai bentuk-bentuk kota, pembahasan diatas adalah hanya sebagian kecil dari bentuk dan pola kota. semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. terima kasih!!


sumber :
Thanks to wikipedia.com
thanks to planosspace.blgspot.com
Thanks to my lecturer Fahmyddin S.T.M.arch