Rabu, 27 November 2013

Siklus Managemen Bencana

Assalamualaikum wr. wbr.



Nah guys pada kesempatan kali ini saya akan melanjutkan kelanjutan dari materi sebelumnya setelah membahas mengenai pola kota , kali ini saya akan membahas mengenai definisi dari tiap tiap bagian siklus managemen bencana.


Sebelum membahas bagian-bagian daripada siklus managemen bencana kita perlu tahu terlebih dahulu, apa sih bencana itu.


Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan definisi bencana sebagai berikut:
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh Faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. menurut ahli , Warfiekd tujuan dari Siklus managemen bencana ialah agar dapat mengurangi atau mencegah kerugian karena bencana tersebut, dan dapat mejamin terlaksananya bantuan yang segera dapat memadai kebutuhan korban bencana. dan mencapai pemulihan yang cepat dan efektif. 

Siklus manajemen bencana yang terdiri komponen  mitigation, preparedness, respon , recovery yang perlu dilakukan secara utuh dan menyeluruh. Untuk lebih jelas akan dibahas keempat fase siklus manajemen bencana tersebut sebagai berikut:



Fase pertama, Mitigation (mitigasi) : upaya untuk memperkecil dampak dari bencana, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Ada 2 bentuk mitigasi yang lazim dilakukan yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. (1) Mitigasi struktural merupakan upaya PRB dengan cara membangun lingkungan fisik dengan menggunakan rekayasa struktur, seperti pembangunan bangunan tahan gempa, pengendalian lingkungan dengan pembuatan kanal banjir, drainase, dan terasering. (2) Mitigasi non-struktural adalah upaya PRB dengan cara merubah prilaku manusia atau proses alamiah, seperti penyusunan kebijakan, peraturan perundang-undangan, PRB, pendidikan, dan penyadaran masyarakat, modifikasi non-struktural, perubahan perilaku masyarakat.



Fase kedua,Preparedness  (kesiapsiagaan) : Merencanakan bagaimana menanggapi bencana dilakukan dalam fase ini. Hal tersebut meliputi: Merencanakan kesiapsiagaan, penilaian kerentanan, kelembagaan, Sistem informasi, basis sumberdaya, membangun sekolah siaga bencana, memasukkkan unsur PRB dalam kurikulum sekolah, Sistem peringatan dini, mekanisme tanggap, pendidikan public dan pelatihan, kesiapan logistic, membuat rencana kontijensi, kemudian diuji coba kesiapsiagaan terhadap bencana.



Fase ketiga, Respon (tanggapan): Upaya memperkecil kerusakan yang disebabkan oleh bencana, Pencarian dan penyelamatan korban diantaranya: Triage korban bencana dan pemilahan korban, pemeriksaan kesehatan, dan mempersiapkan korban untuk tindakan rujukan. Selain itu juga memfungsikan pos kesehatan lapangan (rumah sakit lapangan), mendistribusikan logistik (obat-obatan, gizi, air bersih, sembako), menyediakan tempat tinggal sementara dan penanganan pos traumatic stress.

Fase keempat, Recovery (pemulihan ) : tindakan mengembalikan masyarakat ke kondisi normal. Peristiwa ini menfokuskan pada perbaikan sarana dan prasarana, yaitu: rehabilitasi dan rekonstruksi. Adapun rehabilitasi merupakan upaya untuk membantu komunitas memperbaiki rumahnya, mengembalikan fungsi pelayanan umum, perbaikan sarana transportasi, komunikasi, listrik, air bersih dan sanitasi, dan pelayanan pemulihan kesehatan. Selanjutnya rekonstruksi merupakan upaya jangka menengah dan jangka panjang seperti pembangunan kembali sarana dan prasarana, serta pemantapan kemampuan institusi pemerintah, sehingga terjadinya perbaikan fisik, social dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan komunitas pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.
Adapun Tahapan keempat siklus managemen bencana diatas adalah sebagai berikut:



(Diagram ini merupakan modifikasi  dari diagram‘Posisi Early Warning System dalam Siklus Pengelolaan Bencana‘ yang terdapat dalam Robert Kodoatie Ph. D., dan Roestam Syarief Ph. D.,Pengelolaan Bencana Terpadu, 2005)
Demikian yang dapat saya tuliskan , demi memenuhi tugas refresh minggu ke enam dalam mata kuliah Rancang Kota denga Judul materi Perkuliahan Aspek Bencana Dalam Kota, semoga dapat bermanfaat bagipembaca lainnya. Sekian dan Terima kasih.
Sumber:
Thanks To www.bnpb.go.id
Thanks to Wikipedia.co.id
Thanks To My lecturer Mr. Fahmyddin S.T.M.arch.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar